INFORMASI TKI/TKW

Mendesak, Sertifikasi Kompetensi bagi TKI


BANDUNG, (PR).- Kebutuhan sertifikasi kompetensi bagi tenaga kerja Indonesia semakin mendesak. Menghadapai penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 mendatan, keberadaan sertifikasi kompetensi mutlak diperlukan untuk melindungi tenaga kerja domestic dari gempuran tenaga kerja asing.
Dewan Pakar Forum Ekonomi Jawa Barat (FEJ) Ina Primiana menjelaskan, khusus bagi Jabar, sertifikasi kompetensi menjadi salah satu focus utama yang harus segera dilakukan. Banyaknya tenaga kerja unskilled atau sector informal yang mencapai 53,3% di wilayah ini harus menjadi perhatian secara saksama.
Ia khawatir jika langkah antisifasi tidak dilakuakan, tenaga kerja lokal tidak akan berdaya saing. “Saat ini saja, meski industry nasional sebagian besa di Jabar, justru tenaga kerjanya berasal dari daerah lain. Sementara itu, wagra jabar sendiri lebih banyak di Informal dan harus diingan kantong TKW dan TKI ada di Jabar,” ujarnya, di bandung, selasa (3/11/2013).
Ina mengakui dibutuhkan upaya ekstrakeras dan lebih spesifikik untuk melindungi tenaga kerja Jabar. Apalagi berdasarkan data, 49,30% angkatan kerja yang bekerja masi berpendidikan SD ke bawah. “Berdayakan balai latihan kerja yang ada di daerah, sesuai dengan sector yang dibutuhkan dengan daerah tersebut. Perbaiki pendidikan dan tingkatkan keahlian bahasa,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi Adjat Daradjat meyakini dari 116 juta tenaga kerja di Indonesia, sedikitnya 40% diantaranya merupakan individu yang berkompeten. Hanya, persoalannya hingga saat ini belum disertifikasi. Ditambah lagi, saat ini baru dua kementrian yang telah menyusun standar kompetensi. Namun, itupun masi belum secara optimal.
“Artinya, bagaimana kita mau bilang ke dunia bahwa tenaga kerja kita adalah orang yang berkompeten jika tidak ada lebel kompeten?” ujarnya.
Adjat menambahakan, sertifikasi kompetensi tidak hanya sebatas gelar pendidikan. Namun, terkait nilai yang dimiliki tenaga kerja tersebut, misalnya pengetahuan yang memadai tentang pekerjaannnya, keterampilan yang dimiliki, serta sikap kerja.
Apalagi, ia tak menampik masi adanya gap kompetensi yang diharuskan lembaga pendidikan dengan kebutuhan industry. “kita harus memahami bukan tentang pendidikan atau bagaimana ke formal aja, tetapi berkaitan dengan hasil, bagaimana kemampuan bekerja,” ujarnya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KLIK HIGERPIN

Silahkan Masukan Alamat Email anda

Bergabunglah dengan 12 pengikut lainnya

DAFTAR TAMU

  • 34,613 hits

REDAKSI

%d blogger menyukai ini: