INFO PERANTAU

POTRET PENGEMIS DAN MASALAH KESEJAKTRAAN SOSIAL CIREBON DAN INDRAMAYU


Potret Pengemis di DKI Jakarta

Dekil, pakaian compang camping, menjijikan, merepotkan dan selalu mengharapkan belas kasihan dari orang-orang yang bertemu dengannya. Itu-lah persepsi Orang Jakarta terhadap Pengemis.

Predikat Penyadang Masalah Kesejakteran Sosial (PMKS) menjadi gelar kehormatan bagi seluruh pengemis dan gelandangan di Ibukota Jakarta. Menyambung hidup dengan mengharapkan belas kasihan warga ibukota yang mendasar mereka menjadi pengamis di ibukota karena kampung halaman mereka sulit mencari pekerjaan.

  1. Tuntutan Sekenario dari Tape Hingga Sewa Bayi demi membangun Belas Kasihan Kepada Dermawan

Seperti di wartakan (Republika,10 Mei 2011). Dijelaskan oleh Purwono,Kepala Panti Sosial Bina Insani 3 Kodya mengatkan bahwa pengemis-pengemis ini sengaja ingin membodohi masyarakat Jakarta agar memberinya uang. Pengemis juga banyak melakukan modus agar orang-orang merasa iba kepadanya.

Mereka sengaja memakai baju compang-camping agar orang mengira bahwa mereka tak sanggup membeli baju laik. Padahal, penghasilannya yang diperoleh dari mengemis itu bisa mencapai ratusan ribu dalam sehari.

Beberapa pengemis dengan sengaja membuat luka pada tubuhnya dan memberinya tape agar lalat menempel pada tubuhnya. Terkadang, tubuhnya juga dibuat seperti buntung. Tujuannya adalah agar orang kasihan karena orang cacat seperti mereka tak punya kesempatan lain untuk bekerja selain hanya bisa mengemis.

Pengemis perempuan bahkan sering menyewa bayi. Bayi tersebut dibawa mereka keman-mana agar orang merasa iba bahwa ada seorang ibu yang membawa bayi dan membutuhkan uang. Tak jarang pantat dari bayi yang disewanya tersebut dipukul agar menangis. Ini tak lain guna menambah keibaan.

Magdalena Sitorus, seorang aktivis kemanusiaan, pun tidak setuju dengan adanya pengemis. “Saya tidak respek pada mereka,” katanya. Ia juga mengharapkan agar seluruh masyarakat tahu dan paham bahwa pengemis itu adalah sebuah gangguan. Mereka bukan sebuah hal yang harus dibantu.

  1. Benarkah Penghasilan Pengemis 4 Juta Perbulan dan Perda Pemberi Pengemis di denda 20 juta

Katanya berdasarkan berita 8.com yang mewancari pengemis asal kerawang. Pada 31 Agustus 2009. Jadi  pengemis di Jakarta ternyata memang sangat menggiurkan, apalagi bekerja sendirian. Menurut Kus (47) wanita asal Karawang mengatakan bahwa penghasilan mengemis di Jakarta lebih besar dari gaji tukang cuci baju bahkan kantoran.

‘Kalau dihitung pengasilan lebih besar dari penghasilan tukang cuci baju atau kantoran,’ kata pengemis yang mangkal di wilayah Jalan Ragunan, Jakarta Selatan.
Dia juga mengaku jika dalam satu bulan bisa mengantongi Rp 1,3 juta sampai Rp 3,5 juta bahkan tembus Rp 4 juta lebih.

Dalam mengemis, wanita yang selalu menggendong anak ini mengaku tidak bekerja sendirian, bersama teman seprofesinya sebagai pengemis dia juga sering menjadi buruan Satpol PP DKI Jakarta. ‘Habis bagaimana lagi, kerja gajinya kecil tidak cukup mas,’ sambungnya.

Di Jakarta sendiri Peraturan Dearah (Perda) No 8 tahun 2007 tentang ketertiban umum (tibum) tidak melarang warga bersedekah tapi mengajak masyarakat untuk mendukung kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menertibkan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dengan menyalurkan bantuan melalui lembaga resmi.

Masalah Kesejaktraan Sosial Indramayu dan Cirebon

Berdasarkan catatan dari Dinas Sosial DKI Jakarta tahun 2010 tercatat bahwa jumlah Penyandang Masalah Kesejakteraan Sosial (PMKS)  di Ibukota bisa tembus angka 17.000 yang tersebar di 72 titik, terutama di Jakarta Barat dan Timur.

Sedangkan Data Dinas Sosial DKI PMKS tersebut berasal dari Jawa Barat mencakup wilayah Cirebon, Indramayu, Subang, Bogor, Karawang, Bekasi, Cianjur, Sukabumi dengan total 50 persen PMKS di DKI. Jawa Tengah mencakup wilayah Tegal, Pemalang, Brebes, Semarang, Pekalongan dan beberapa wilayah di Jawa Timur yang mencakup 40 persen PMKS di DKI, sedangkan 10 persen berasal dari wilayah DKI dan Banten seperti Tangerang (Kota/Kabupaten).

Kabupaten Cirebon dan Indaramayu merupakan daerah Agraris,dimana aktivitas utama warganya adalah bertani. Apabila masa panen sudah selesai maka warga desa  tidak lagi bekerja karena lapangan kerja hanya mengandalkan bertani saja. Guna menunggu musim rendengan tiba maka para warga desa menjadi urban (Perantau) dengan berbagai profesi Informal di jakarta. Sulitnya mencari nafkah di Jakarta menyebabkan kaum urban tanpa malu menjadi seorang pengemis.

Peran pembangunan di Kabupaten Cirebon dan Indramayu sendiri,terutama penciptaan lapangan kerja yang berorentasi padat karya masih belum ter-realisasi sehingga banyak sekali penduduknya yang menjadi Urban dengan modal nekad dan menjadi pengemis salah satu pilihanya. setidaknya Pemda Kab Cirebon dan Indramayu sudah saatnya menitik beratkan pada pembangunan penciptaan lapangan kerja yang padat karya. (Badi,21/07/2011)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KLIK HIGERPIN

Silahkan Masukan Alamat Email anda

Bergabunglah dengan 12 pengikut lainnya

DAFTAR TAMU

  • 34,613 hits

REDAKSI

%d blogger menyukai ini: