POLITIK PEDESAAN

DAFTAR PEMILIH TETAP ONE PRESTASI ATAU SENJATA MAKAN TUAN SATU UKURAN KINERJA PANITIA PILWU DESA KALIWEDI LOR


Tahapan Pendaftaran Hak pilih atau Pendataan  Hak Pilih  pada Pemilihan Kuwu Desa Kaliwedi Lor

Sebagaimana termuat pada  situs politik.Kompasian.com,dimana pada tanggal 28-30 April 2011 panitia Pilwu Desa Kaliwedi Lor  memasuki tahap pendaftaran hak pilih tetap dan tambahan.

Panitia Pilwu melakukan Pendaftaran hak pilih dan tambahan hak pilih,artinya panitia pilwu hanya membuka loket-loket atau posko pendaftaran bagi warga desa Kaliwedi Lor yang akan berpartisipasi  dalam Pemilihan Kuwu yang akan berlangsung pada tanggal 08 Mei 2011 mendatang. Lalu bagaiman dengan warga desa yang ketinggalan informasi atau karena kesibukanya tidak sempat untuk mendaftar menjadi peserta pemilih dalam pemilihan kuwu ?

Bila kita aplikasikan dengan metode Just in Time dan Optik Kebijakan Publik Panitia terkesan pelit informasi dan sosialisasi pada warga desa tercermin dengan system yang dibuat dalam tahapan pemilihan kuwu yang tanpa adanya sosialisasi dari panitia kepada warga desa Kaliwedi Lor.

Model Pendaftaran Hak Pilih Rentan Kecurangan dalam Pemilihan Kuwu

Logika Pendaftaraan Hak pilih bersinonim dengan Pendaftaraan Sekolah,Pendaftaran nonton Konser dan sejenisnya. Maka muncul statement “Siapa Yang daftar,Ikut memilih dan yang gak daftar Maaf hanya jadi penonton saja walaupun usia sudah sesuai dengan persyaratan hak pilih dan berstatus warga desa”.

Jelas pengkebirian hak warga memilih dan dipilih yang diatur oleh undang-undang telah tersumbat karena kurang kreatifnya panitia pilwu sehingga pesta demokrasi milik seluruh warga desa menjadi pesta demokrasi bagi mereka yang sudah mendaftar ke panitia melalui loket panitia pilwu.

Persaingan antar calon kuwu dalam mencari dukungan menjadi sebuah pasar suara dimana target para cucuk atau team sukses hanya berapa banyak mendaftrkan warga bisa memilih dalam pesta demokrasi mendatang tanpa harus melakukan komunikasi politik sebagai wujud dari kesadaran warga dalam memilih sosok Kuwu yang bersih dan bijak dan pengayom warga.

Munculnya pasar suara mengakibatkan tingginya harga suara dan calon yang mapan dalam keuangan sudah pasti menang walaupun kemampuan memimpin masih diragukan. Paradigma berpikir bisnis kekuasaan menjadi suatu keharusan karena besarnya biaya perebutan kursi kekuasaan yang disebabkan oleh system yang dibuat oleh mesin demokrasi (panitia Pilwu) yang menjadi kenyataan.

Bagi Calon Kuwu yang menang maka akan berpikir bagaimana mengembalikan modal perebutan dan menikmati keuntungan menjadi kuwu walaupun pembangunan desa yang akan menjadi korban. Sedangakan bagi calon yang kalah akan menuntut panitia pilwu yang tidak transfaran dengan jumlah suara karena tidak mampu membeli suara. Apakah ini disebut demokrasi Pancasila?

Butuh Pendataan Warga Desa bukan Pendaftaran Hak Pilih sebagai Wujud Pendidikan Politik dan Esensi Demokrasi Desa

Pendataan Warga Desa yang mempunyai hak pilih merupakan bagian fungsi pelayanan panitia dalam menyukseskan pesta demokrasi milik seluruh warga desa Kaliwedi Lor  yang berlangsung pada 08 Mei 2011.

Dasar penggunaan data primer dari hasil sensus atau pilbup dan lainya tidak akan sama karena belum di ketahui berapa warga desa yang sudah mempunyai hak pilih, warga yang pandah desa, dan warga yang meninggal dunia. Pendataan Ulang Warga yang mempunyai hak pilih merupakan hal yang wajib dilakukan oleh panitia karena syarat dari esensi demokrasi dan menghindari kondisi yang tidak kondusif serta memblokade adanya eksodus yang dilakukan oleh oknum calon kuwu. (Badi,29 April 2011)

Diskusi

Komentar ditutup.

KLIK HIGERPIN

Silahkan Masukan Alamat Email anda

Bergabunglah dengan 12 pengikut lainnya

DAFTAR TAMU

  • 34,613 hits

REDAKSI

%d blogger menyukai ini: